Sikap Asas Film Animasi

Film animasi berasal dari dua disiplin, yaitu film yang berakar pada  dunia fotografi dan animasi yang berakar pada  dunia gambar. Kata ’film’ berasal dari bahasa Inggris yang telah di indonesiakan, maknanya dapat kita lihat pada kamus umum Bahasa Indonesia: ”1 barang tipis seperti selaput yang di buat dari seluloid tempat gambar potret negative (yang akan di buat potert atau di mainkan dalam bioskop): 2 lakon (cerita) gambar hidup ; ” (poerwadarminta 1984)

Secara mendasar pengertian Film yang menyeluruh sulit di jelaskan. Baru dapat di artikan kalau di lihat dari konteksnya, misalnya di pakai untuk potret negative atau plat cetak, film mengandung pengertian suatu lembaran pita seluloid yang di proses secara kimia sebelum bisa di lihat hasilnya, atau yang berhubungan dengan cerita atau lakon, film mengandung pengertian sebagai gambar hidup atau rangkaian gambar-gambar yang bergerak menjadi suatu alur cerita yang di tonton orang, bentuk film yang mengandungunsur data cahaya, suara dan waktu.

Sedangkan pengertian Animasi secara khusus dapat kita simak pada Ensiklopedi Americana: ”Animated, a motion picture consisting of series of invidual hard-drawn sketches, in which the positions or gestures of the figures are varied slightly from one sketch to another. Generally, the series s film and, when projected on screen, suggest that figures are moving “(Enclopedia Americana Vol.VI, 1976).

Tekhnik film animasi, seperti halnya film hidup, di mungkinkan adanya perhitungan kecepatan film yang berjalan berurutan antara 18 sampai 24 gambar tiap detiknya.

Gambar yang di proyeksikan ke layer sebetulnya tidak bergerak, yang terlihat adalah gerakan semu, terjadi pada indra kita akibat perubahan kecil dari satu gambar ke gambar yang lainnya, adanya suatu fenomena yang terjadi pada wktu kita melihat, di sebut ‘Persistence of vision’, sehingga menghasilkan suatu ilusi gerak dari pandangan kita.

Berbeda dengan film hidup, gambar di ambil dari pemotretan abjek yang bergerak, lalu di analisis satu persatu menjadi beberapa gambar diam pada tiap bingkai pita seluloid.

Sedangkan film animasi, gerak gambar di ciptakan dengan menganalisis gambar per gambar atau kerangka demi kerangka oleh animator, lalu di rekam gambar demi gambar atau gerak demi gerak dengan menggunakan kamera ’stop-frame’, kamera yang memakai alat mesin penggerak pita seluloid bingkai per bingkai, dengan perhitungan waktu untuk setiap satu detik di butuhkan 24 bukaan bingkai kamera untuk merekam gambar, gerak ke pita seluloid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s